Tampilkan postingan dengan label sehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sehat. Tampilkan semua postingan

2013-02-23

Tulang Rusuk Pria Ini Harus Dipasangi Logam karena Penyakit Langka



Jakarta, Tulang rusuk berfungsi sebagai pelindung dada dan segala organ yang ada di dalamnya seperti paru-paru, jantung dan hati. Tapi bagaimana jika tulang rusuk itu merusak organ-organ yang harus dilindunginya akibat penyakit langka?

Kondisi ini terjadi pada pria malang asal Inggris bernama Dale Hay. Dale terlahir dengan penyakit bernama Pectus excavatum yang berarti dada berlubang. Namun meski penyakit ini dibawanya sejak lahir, Dale mengaku baru merasakan gejalanya hingga menjelang remaja.

Dale penasaran mengapa ia sangat kesulitan untuk bernafas, lalu iseng-iseng ia browsing lewat mesin pencari Google dengan cara mencantumkan sejumlah gejala yang ia rasakan selama ini. Dari situlah Dale mendiagnosis dirinya sendiri dengan sebuah penyakit langka.

"Saya mendatangi dokter dan memperlihatkan apa yang saya temukan di internet. Dari situ ia mengirim saya untuk di-scan di Heartlands Hospital, Birmingham dan mereka mengatakan jika dada saya sangat sempit dan jika ini tidak segera ditangani, ini akan menabrak jantung saya," kisah Dale seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (22/2/2013).


"Mereka bilang akan menyelipkan sebuah logam batangan ke dalam dada saya agar tulang rusuk saya bisa dipisahkan sekaligus memaksanya untuk tumbuh secara normal. Ini terdengar sangat aneh tapi saya kira itu memang perlu dicoba," lanjutnya.

Pada musim panas 2010, tim dokter pun berhasil melakukan prosedur operasi untuk memasukkan semacam 'penjepit' khusus pada tulang rusuk Dale. Penjepit yang terbuat dari logam dan berukuran sepanjang kaki orang dewasa ini berfungsi untuk menahan tulang tersebut agar tak menabrak jantung dan paru-paru Dale.

3,5 Tahun kemudian, tim dokter menyatakan 'penjepit' logam di tulang rusuk Dale sudah bisa dicabut. Diperkirakan setelah itu, tulang rusuk Dale akan normal untuk seterusnya.

"Saya sangat senang karena akhirnya logam ini bisa dikeluarkan karena saya tak nyaman. Logam ini juga membuat tulang rusuk saya agar menjorok keluar dan rasanya aneh, tapi bagaimanapun ini telah menyelamatkan hidup saya," kata Dale yang berasal dari Atherstone, Warwickshire tersebut.

Kendati begitu, Dale masih belum bisa bernafas lega karena operasi untuk mengeluarkan logam tersebut dari dalam tubuhnya ternyata harus dibatalkan hingga empat kali. Penyebabnya, rumah sakit tempatnya dirawat kebanjiran pasien sehingga belum sempat menangani Dale.

Namun Dale menolak menyalahkan siapapun, ia tetap memilih bahagia dan bersyukur karena nyawanya terselamatkan oleh logam tersebut.

2013-02-22

Survei: Jam Kerja yang Panjang Jadi Alasan Utama Orang Malas Olahraga



Jakarta, Ada-ada saja alasan orang untuk malas atau enggan berolahraga. Padahal bugar dan aktif sepanjang hari dan setiap hari dapat mengurangi risiko diabetes, penyakit jantung, stroke, kanker dan demensia, tapi 94 persen responden sebuah survei terbaru tidak menganggap kebugaran fisik sebagai aspek terpenting dalam hidup mereka.

Yang mengejutkan, survei yang dilakukan di Inggris ini mengungkap bahwa satu dari 10 responden mengaku tak pernah melakukan latihan fisik apapun selama lebih dari satu dekade (10 tahun). Bahkan seperlima responden mengaku terakhir kali aktif melakukan kegiatan fisik saat masih sekolah atau kuliah dan hanya seperempat responden yang mengklaim rajin olahraga dalam seminggu belakangan.

Dari survei yang melibatkan 2.000 orang itu pun diketahui bahwa jam kerja yang panjang adalah alasan utama bagi 41 persen responden untuk mengesampingkan olahraga diikuti dengan mengasuh anak (33 persen).

Menikah juga dijadikan alasan bagi 22 persen responden untuk tidak lagi rajin berolahraga.

"Jika fisik Anda tidak aktif, maka risiko Anda untuk terkena serangan jantung akan meningkat," kata peneliti Ellen Mason dari British Heart Foundation seperti dilansir dari medindia, Jumat (22/2/2013).

"Lain halnya jika Anda terus aktif dan bugar, karena dengan begitu Anda dapat mencegah dan mengelola berbagai kondisi kesehatan yang dapat menumbuhkan risiko penyakit kardiovaskular. Lagipula jantung Anda juga berupa otot jadi jika Anda berolahraga, ia akan mendapatkan manfaat lebih dari aktivitas itu," pungkasnya.

Telinga Sintetik Ini Terlihat Seperti Aslinya


Jakarta, Saat ini teknologi medis telah berkembang cukup pesat. Bahkan kini ilmuwan telah mampu menciptakan telinga sintetis yang mirip seperti aslinya untuk membantu anak-anak yang lahir dengan cacat di telinga.

Gabungan dari Bio-engineer dan dokter telah berhasil membuat telinga sintetis yang dibuat dengan menggunakan cetakan 3-D dan menyuntikkan sesuatu ke dalam cetakan. Hal ini memberikan harapan baru bagi ribuan anak-anak yang lahir dengan kondisi mictoria.

Diketahui banyak anak lahir dengan kondisi microtia, yaitu kelainan bentuk congenital yang membuat telinga eksternal tidak berkembang sempurna, sehingga bentuknya tidak utuh dan kadang mengalami gangguan pendengaran akibat ada struktur yang hilang.

"Ini adalah kemenangan untuk dunia medis dan ilmu pengetahuan dasar, hasil ini menunjukkan apa yang bisa kita capai ketika kita bekerja sama," ujar Lawrence Bonassar, yang ikut memimpin penelitian ini dari Weill Cornell Medical College, seperti dikutip dari Indiavision, Jumat (22/2/2013).


Untuk membuat telinga ini, Bonassar dan rekan memulainya dengan menggambar digital 3-D telinga manusia, kemudian gambar diubah menjadi cetakan bentuk telinga dengan menggunakan printer 3-D.

Cetakan telinga 3-D ini diisi dengan suntikan gel yang terbuat dari sel-sel hidup, dan menumbuhkan tulang rawan untuk menggantikan kolagen. Untuk pembentukannya dibutuhkan waktu selama 3 bulan.

Keberhasilan pembuatan telinga sintetik ini sudah menjadi solusi yang lama diharapkan bagi ahli bedah rekonstruksi untuk membantu anak-anak yang lahir dengan kondisi cacat telinga.

"Bio-rekayasa telinga pengganti ini juga akan membantu individu yang telah kehilangan sebagian atau seluruh telinga eksternal mereka dalam suatu kecelakaan atau akibat kanker," ujar Jason Spector, profesor operasi plastik dari Weill Cornell di New York City.

Spector menuturkan dulu replacement telinga biasanya dibangun dengan bahan-bahan seperti dari styrofoam atau kadang ahli bedah membuatnya dari tulang rusuk pasien yang dipanen. Namun pilihan ini menantang dan menyakitkan bagi anak-anak, serta telinga jarang terlihat benar-benar alami.

Kini telinga sintetik bisa terlihat seperti aslinya dan lebih baik. Hasil penelitian gabungan antara insinyur biomedis dan dokter ini telah dipublikasikan dalam jurnal Public Library of Science One.

Patuhi Jam Biologis Tubuh agar Anda Terhindar dari Diabetes



Jakarta, Tubuh memiliki jam biologis alami yang tahu kapan dirinya harus aktif atau beristirahat. Seseorang perlu mengikuti ritme biologis tersebut agar tetap sehat, karena gangguan pada jam biologis ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Para peneliti dari Vanderbilt University di Nashville mencoba mempelajari apakah gangguan jam biologis seseorang berpengaruh besar terhadap kesehatannya. Penelitian tersebut melibatkan dua kelompok tikus, dimana kelompok pertama memiliki jam biologis yang normal sedangkan kelompok kedua dibiakkan secara cacat genetik dengan menonaktifkan jam biologisnya.

Peneliti mengukur perbedaan antara aktivitas insulin dan berat badan pada masing-masing kelompok tikus tersebut. Pada tikus yang jam biologisnya terganggu, peneliti menemukan bahwa ada perubahan siklus aktivitas insulin sepanjang hari.

Tikus mampu mengontrol insulin dengan baik ketika dirinya aktif, tetapi jika jam aktif tikus terlalu banyak dalam sehari dan menyebabkan kurangnya waktu istirahat, dapat menyebabkan resistensi insulin. Hal ini menunjukkan bahwa ritme biologis seseorang sangat berperan dalam regulasi insulin.

Tikus yang telah mengalami kerusakan akibat gangguan jam biologis bahkan dapat terjebak dalam modus resistensi insulin selama periode waktu 24 jam. Insulin adalah hormon yang mengatur gula darah, dan resistensi insulin terjadi ketika tubuh tidak lagi efektif dalam menurunkan gula darah sebagai respon terhadap insulin.

Resistensi terhadap insulin merupakan penanda utama diabetes tipe 2. Temuan ini semakin menambah bukti bahwa hewan dan manusia yang mengalami gangguan jam biologis, misalnya karena perubahan siklus tidur dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2.

"Kebanyakan penelitian mengamati aktivitas insulin pada tikus di siang hari saja, sedangkan penelitian ini memantau aktivitas insulin selama sehari penuh untuk mengetahui kaitannya dengan gangguan jam biologis," kata Carl Johnson, PhD, penulis studi tersebut.

Peneliti juga mempelajari efek jangka panjang dari gangguan jam biologis tersebut. Kedua kelompok tikus tersebut diberi makan makanan berlemak selama dua bulan lamanya.

Setelah dua bulan, peneliti menimbang berat badan tikus pada masing-masing kelompok dan diketahui bahwa keduanya memiliki berat badan yang hampir sama. Akan tetapi, tikus yang jam biologisnya telah rusak lebih banyak memiliki tumpukan lemak pada tubuhnya dibanding kelompok tikus kontrol.

Temuan ini berlaku juga untuk manusia yang tidak mampu menjaga jam biologisnya, lebih berisiko terhadap diabetes tipe 2 dan kegemukan. Gangguan jam biologis sering terjadi pada orang yang bekerja dengan sistem kerja shift atau wisatawan yang sering mengalami jet lag secara teratur karena sering bepergian.

Penelitian menunjukkan bahwa pergeseran waktu tidur pada pekerja shift malam, membuatnya lebih rentan terhadap beberapa penyakit yang berkaitan dengan obesitas, seperti sindrom metabolik dan diabetes tipe 2. Hubungan ini mungkin disebabkan karena gangguan jam bilogis tersebut mempengaruhi irama sirkardian tubuh, regulasi gula darah dan metabolisme.

Yang perlu Anda lakukan untuk mencegah risiko tersebut adalah dengan memperbaiki jam biologis tubuh. Pastikan bahwa Anda mendapatkan jam tidur yang cukup dan berkualitas. Matikan semua peralatan elektronik dan redupkan lampu kamar ketika Anda akan pergi tidur.

Penelitian tersebut diterbitkan secara online hari Kamis (21/2) kemarin dalam jurnal Current Biology, seperti dilansir Everydayhealth, Jumat (22/2/2013).

Dokter Bedah Salah Angkat Testis, Pria Ini Takut Tak Bisa Punya Anak



Jakarta, Testis berfungsi memproduksi sperma dan testosteron. Seorang laki-laki di Inggris kini merasa takut tidak pernah bisa memiliki anak akibat dokter bedah salah mengangkat testisnya yang sehat dan bukan yang terkena kanker.

Seorang pria diketahui memiliki kanker di salah satu testisnya. Ia pun menjalani operasi pengangkatan testis untuk mencegah agar kanker tidak menyebar dan menyelamatkan testis yang lain.

Namun sayangnya, dokter bedah justru melakukan kesalahan saat operasi dengan mengangkat testis yang sehat, dan baru menyadari kesalahannya tersebut sekitar 40 menit kemudian saat dokter sudah selesai menjahit untuk menutup luka operasi.

"Mereka mengambil testis yang salah, seharusnya testis yang memiliki kanker. Sepertinya saya tidak bisa lagi menjadi ayah, ini menyebabkan stres luar biasa dan menegangkan," ujar pria itu, seperti dikutip dari Mirror.co.uk, Jumat (22/2/2013).

NHS Foundation Trust mengungkapkan telah mengkonfirmasi insiden tersebut, serta pihak rumah sakit telah memberikan permintaan maaf yang tulus dan operasi bedah remedial telah dilakukan pada saat itu.

Seperti dilansir Mayo Clinic, kanker testis terjadi di testis yang mana terletak di dalam skrotum yaitu kantong kulit longgar di bawah penis. Testis ini memproduksi hormon seks laki-laki dan sperma untuk reproduksi.

Beberapa tanda dan gejala menunjukkan adanya kanker testis seperti pembesaran atau benjolan di testis, rasa nyeri di perut atau selangkangan, rasa sakit atau tidak nyaman di testis atau skrotum, serta skrotum terasa berat. Jika gejala ini lebih dari 2 minggu sebaiknya segera hubungi dokter.

Kanker biasanya hanya mempengaruhi 1 testis saja dan dalam banyak kasus tidak diketahui dengan jelas apa penyebabnya. Hampir semua kanker testis dimulai di dalam sel germinal (sel di testis yang memproduksi sperma dewasa). Namun umumnya bisa diobati meski sudah menyebar ke luar testis.

Beberapa hal diketahui bisa menjadi faktor risiko untuk kanker testis seperti testis tidak turun, perkembangan testis yang abnormal, riwayat kanker testis di dalam keluarga, usia 15-34 tahun dan ras kulit putih diketahui lebih banyak memiliki kanker testis.